My World Is Full With You Part 2
“Oi tembem, pinjem tugas kemaren donk!” seorang cowok tinggi, putih, dengan tampang yang lumayan...jelek! (Padahal cakep bangeeeet! Cha, gak boleh menipu diri sendiri) menghampiriku dengan senyum jahilnya. Hhh...hari ini bakal sial, seharian ini aku bakalan kena cela terus. Oh Tuhan, kenapa makhluk cakep yang keren ini bikin aku susah tiap hari bukannya bikin aku berbunga-bunga.
Aku menoleh pada Dika yang masih tersenyum di depanku. Hari ini dia memakai kemeja biru garis-garis, celana biru tua dan sepatu kets. Rambut ikalnya tak serapi biasa, matanya tampak lelah dan dia berdiri sedikit gontai dengan ransel yang tampak membebani pundaknya.
Dengan datar aku berkata, “Lagi dipinjem sama Aya’”. Setelah itu aku langsung beranjak pergi mencari kursi kosong dengan radius lebih dari 3 meter darinya.
“Cha...woii...napa loe?!” Dika berjalan mengikutiku. Sepertinya dia bingung dengan sikapku yang diam mendengar celaannya. Biasanya kalau udah ketemu kami pasti jadi biang ribut di kelas. Sekali-sekali ni anak kudu diambekin biar kapok, hihi.
“Gak pa-pa kok” jawabku tenang. Kuletakkan buku-buku di meja dan duduk di kursi dekat jendela di sebelah kanan ruangan. Dari sini aku bisa melihat mahasiswa yang lalu lalang di luar kelas. Mata kuliah hari ini tidak terlalu menarik, jadi aku memilih kursi agak di belakang.
Dika mengambil kursi kosong didepanku. Meletakkan tasnya dan berbalik menghadap ke arahku. “Cha, marah ya ama gue?” Dika menatapku dengan cemas dan rasa bersalah. Ah, aku tidak tahan melihatnya. Emang susah marah sama dia. Aku tak sanggup lagi, tawaku meledak seketika. Dika melihatku dengan heran dan akhirnya mengerti, “Loe tu yeeee.....dodol!”
“Heh, loe tu yang dodol! Sembarangan ngatain orang tembem.” Balasku tak mau kalah.
“Iya deh. Mana tugasnya?! Pinjem!”
“Eh, kalo butuh tuh ngomong baek-baek. Bukan bentak-bentak kayak gitu.”
Dika tersenyum dan berkata dengan sopan, “Cha Tembem...gue pinjem tugas loe donk. Boleh gak?”
Hahhh...aku hanya bisa menghela nafas. Ni anak gak kapok-kapok ternyata. Kujawab pertanyaannya dengan nada yang tak kalah sopan, “Dika dodol, tadi kan udah gue bilang, tugasnya lagi dipinjem Aya’. Kasian ya, belum tua dah mulai pikun.” Aku tersenyum penuh kemenangan. Ayo, loe mau nyela apalagi Dik? Gue ladenin ampe puas.
“Trus, Aya’-nya mana?” tanya Dika tanpa merasa kena cela. Aku tahu saat ini dia belum menemukan celaan baru jadi dia tidak banyak komentar, haha!
“Bentar lagi juga dateng. Lagian kok loe ribut banget sih, tugasnya kan dikumpulin lusa.”
“Hah?! Lusa? Bukan hari ini?!” Dika kaget mendengar jawabanku.
“Bukan” jawabku datar.
“Kan loe yang bilaaang!!”
“Gue cuman bilang...Dik, tugas Bu Ida udah dikerjain belum?” Aku berkata tanpa rasa bersalah. Padahal kemarin aku menelponnya dengan panik karena tugasku belum selesai.
“Trus sebenarnya loe udah ngerjain belum?”
“Baru setengah. Abis nelpon loe, gue tanya ke Aya. Dia bilang dikumpulin lusa, jadi yah belum gue selesein”
“Dodol! Kenapa gak telpon gueee...kasih tau kek kalo dikumpulin lusa! Kan gue gak perlu bangun pagi-pagi gini. Mana tadi malem gue tidur jam 3 tau gak?!”
“Gak!” jawabku pendek.
“Chaaaa.....!!”
“Malesh tauk! Buang-buang pulsa. Lagian gue bukan kakek-kakek yang kudu ngasih tau loe kapan mesti ngumpulin tugas.” Jawabku kalem. Aku hanya tersenyum melihat Dika yang menatapku tajam, ingin membalas celaanku. Namun Pak Iman terlanjur masuk ruangan. Aku menunjuknya dengan isyarat tangan agar Dika berbalik dan mengikuti kuliah. Dika hanya bisa mendengus kesal mengikuti saranku. Kurasa untuk sementara waktu aku bisa tenang tanpa celaan dan ocehannya.
Aku menoleh pada Dika yang masih tersenyum di depanku. Hari ini dia memakai kemeja biru garis-garis, celana biru tua dan sepatu kets. Rambut ikalnya tak serapi biasa, matanya tampak lelah dan dia berdiri sedikit gontai dengan ransel yang tampak membebani pundaknya.
Dengan datar aku berkata, “Lagi dipinjem sama Aya’”. Setelah itu aku langsung beranjak pergi mencari kursi kosong dengan radius lebih dari 3 meter darinya.
“Cha...woii...napa loe?!” Dika berjalan mengikutiku. Sepertinya dia bingung dengan sikapku yang diam mendengar celaannya. Biasanya kalau udah ketemu kami pasti jadi biang ribut di kelas. Sekali-sekali ni anak kudu diambekin biar kapok, hihi.
“Gak pa-pa kok” jawabku tenang. Kuletakkan buku-buku di meja dan duduk di kursi dekat jendela di sebelah kanan ruangan. Dari sini aku bisa melihat mahasiswa yang lalu lalang di luar kelas. Mata kuliah hari ini tidak terlalu menarik, jadi aku memilih kursi agak di belakang.
Dika mengambil kursi kosong didepanku. Meletakkan tasnya dan berbalik menghadap ke arahku. “Cha, marah ya ama gue?” Dika menatapku dengan cemas dan rasa bersalah. Ah, aku tidak tahan melihatnya. Emang susah marah sama dia. Aku tak sanggup lagi, tawaku meledak seketika. Dika melihatku dengan heran dan akhirnya mengerti, “Loe tu yeeee.....dodol!”
“Heh, loe tu yang dodol! Sembarangan ngatain orang tembem.” Balasku tak mau kalah.
“Iya deh. Mana tugasnya?! Pinjem!”
“Eh, kalo butuh tuh ngomong baek-baek. Bukan bentak-bentak kayak gitu.”
Dika tersenyum dan berkata dengan sopan, “Cha Tembem...gue pinjem tugas loe donk. Boleh gak?”
Hahhh...aku hanya bisa menghela nafas. Ni anak gak kapok-kapok ternyata. Kujawab pertanyaannya dengan nada yang tak kalah sopan, “Dika dodol, tadi kan udah gue bilang, tugasnya lagi dipinjem Aya’. Kasian ya, belum tua dah mulai pikun.” Aku tersenyum penuh kemenangan. Ayo, loe mau nyela apalagi Dik? Gue ladenin ampe puas.
“Trus, Aya’-nya mana?” tanya Dika tanpa merasa kena cela. Aku tahu saat ini dia belum menemukan celaan baru jadi dia tidak banyak komentar, haha!
“Bentar lagi juga dateng. Lagian kok loe ribut banget sih, tugasnya kan dikumpulin lusa.”
“Hah?! Lusa? Bukan hari ini?!” Dika kaget mendengar jawabanku.
“Bukan” jawabku datar.
“Kan loe yang bilaaang!!”
“Gue cuman bilang...Dik, tugas Bu Ida udah dikerjain belum?” Aku berkata tanpa rasa bersalah. Padahal kemarin aku menelponnya dengan panik karena tugasku belum selesai.
“Trus sebenarnya loe udah ngerjain belum?”
“Baru setengah. Abis nelpon loe, gue tanya ke Aya. Dia bilang dikumpulin lusa, jadi yah belum gue selesein”
“Dodol! Kenapa gak telpon gueee...kasih tau kek kalo dikumpulin lusa! Kan gue gak perlu bangun pagi-pagi gini. Mana tadi malem gue tidur jam 3 tau gak?!”
“Gak!” jawabku pendek.
“Chaaaa.....!!”
“Malesh tauk! Buang-buang pulsa. Lagian gue bukan kakek-kakek yang kudu ngasih tau loe kapan mesti ngumpulin tugas.” Jawabku kalem. Aku hanya tersenyum melihat Dika yang menatapku tajam, ingin membalas celaanku. Namun Pak Iman terlanjur masuk ruangan. Aku menunjuknya dengan isyarat tangan agar Dika berbalik dan mengikuti kuliah. Dika hanya bisa mendengus kesal mengikuti saranku. Kurasa untuk sementara waktu aku bisa tenang tanpa celaan dan ocehannya.
