My World is Full With You Part 1
“Met sore Mbak, mau cari kaset apa?”. Sapaan itu kubalas dengan senyuman sambil tengok kiri kanan…rak-rak berjejer di sekeliling ruangan yang isinya kaset semua (namanya juga toko kaset).
Pelayan toko itu tetap berdiri diam di depanku, tatapannya penuh harapan bahwa aku akan tertarik pada satu kaset dan membelinya.
Dengan sikap ragu-ragu akhirnya kujawab juga pertanyaannya.
“Ada CD-nya CAKE gak? Yang judul albumnya Fashion Nugget?” (dalam hati…pasti gak ada).
“Wah maaf Mbak, gak ada, kan udah lama banget. Udah gak keluar lagi”.
Emang! Udah lama banget, udah gak keluar lagi tapi aku tetap ngeyel untuk meletakkannya sebagai pertanyaan pertama kalo masuk toko kaset. Maklum, aku terobsesi sama I Will Survive-nya dan nyadar gak mungkin di jaman gini masih ada yang jual CD-nya. Aku selalu mengajukan pertanyaan itu karena sebenarnya aku tidak pernah punya tujuan yang jelas mau beli apa setiap pergi ke toko kaset. Sebagai tambahan, aku udah ke toko ini lebih dari dua kali dengan pertanyaan yang sama setiap kali datang.
“Mmm…iya sih, susah nyarinya.” Desahku sambil terus memandang ke sekeliling ruangan. Kalo Mocca ada CD-nya gak Mbak?” (sebenarnya aku udah punya kasetnya, tapi untuk lagu-lagu favorit biasanya aku beli CD-nya).
“Sebentar ya Mbak…” Pelayan toko tersebut berbalik dan mulai mencari-cari CD yang kuminta. Kemudian ia menoleh, “Kayaknya lagi kosong tuh Mbak. Yang lain aja gimana?”
Aku mulai berpikir untuk tidak berlama-lama disini dan pelayan toko itu jelas tidak ingin aku lekas pergi. Karena ia langsung memburuku dengan pertanyaan lagi. “Kalo Ten-2-Five mau gak Mbak? Lagunya enak-enak loh” (Iya, kalo bisa dimakan…)
“Ten-2-Five?!” Aku bertanya dengan penuh keraguan. Aku tidak suka gambling dalam membeli kaset, biasanya mengecewakan.
“Yah agak mirip sama Mocca. Grup band baru, dari Bandung juga. Mau Mbak?”
“Ee...bisa liat gak?” Masih dengan sikap ragu akhirnya kuiyakan juga tawaran pelayan toko itu.
Sesaat kemudian ia menyodorkan lagu yang dimaksud dalam bentuk CD. Aku langsung bertanya, “Loh, gak ada kasetnya Mbak?”. Kalau hanya untuk coba-coba sayang banget beli CD, terlalu mahal.
“Beli CD-nya aja Mbak, tanggung…cuman beda dikit kok.” Pelayan toko itu tersenyum hangat dengan mata berbinar meyakinkanku bahwa aku tidak akan kecewa dengan pilihannya.
“Yah kalo bagus sih gak papa, tapi saya belum pernah denger lagunya”
“Dijamin bagus kok Mbak, kalo Mbak suka Mocca pasti Mbak suka Ten-2-Five”
Yup! Bener banget! “Kalo suka Mocca pasti suka Ten-2-Five”, seruku dalam hati sambil mendengarkan CD yang baru saja kubeli tadi selama dalam perjalanan pulang. Ugh, bener-bener jadi dihayati deh ni lagu. Gimana nggak?! Lagi pas banget dengan suasana hati. So pasti gak jauh beda sama Mocca. Dulu juga pas dengan kisahku waktu kuliah. Bedanya, Mocca menceritakan diriku yang lagi jatuh cinta sedangkan Ten-2-Five menggambarkan diriku yang sekarang ini lagi patah hati. Daleemm...
Biasalah, kadang kita punya kenangan tersendiri tentang suatu lagu karena merasa tuh lagu liriknya “gue banget”. Pernah kayak gitu? Yakin deh pernah, bahkan mungkin sering. Nah, aku termasuk orang yang seperti itu, suka mencocokkan lagu dengan keadaan diri, kadang rada maksa juga sih…hihihi gak papa lah buat menghibur hati.
“Kaaaakkkk…awasss!”
Oooops, hampir aja. Aku melamun… untung tadi sempat menghindar dari motor yang tadi nyaris kutabrak.
“Jangan bengong aja donk! Belum mo mati neh!” ujar Ryo yang duduk disampingku. Dasar adek yang satu ini kalo ngomong gak liat-liat umur. Gak sopan tereak-tereak kayak temen sebaya.
“Iya, iya…cerewet! Kasar banget sih ngomongnya. Biasa aja lagi”. Dengan sebal kubalas ucapannya. Maunya sih sambil melototin dia tapi aku lebih memilih meratiin jalan daripada nabrak lagi.
“Sori deh Kak…abisan ngelamun aja. Lagi nyetir tuh konsentrasi dikit napa sih.” Gayanya yang sok menasehati semakin membuatku kesal.
“Iye tauk anak keciiil…bisanya nasehatin mulu.”
“Sapa jugak yang anak kecil, huh!”. Spontan saja Ryo langsung cemberut dan memalingkan wajahnya dariku. Yakin deh sekarang dia lagi gondok karena kubilang anak kecil. Hihihi…jurus ampuh mendiamkan Ryo. Tapi salahku juga sih pake acara ngelamun segala. Hampir…hampir…
Ryo diam saja, akupun tidak banyak bicara karena aku tahu Ryo pasti masih sebal dengan ejekanku tadi. Hanya terdengar suara alunan musik dari tape yang masih memutar CD yang baru kubeli.
“...coz my world is full with you...”
Uh-uh, lagu ini bikin sedih aja. Sampai saat ini aku masih saja memikirkannya. Dia yang pernah mengisi hidupku beberapa waktu lalu. Walaupun sesaat aku benar-benar tidak dapat melupakannya dan aku masih mengenangnya. Dika...untuk kesekian kalinya kusebut nama itu dalam hatiku.
Pelayan toko itu tetap berdiri diam di depanku, tatapannya penuh harapan bahwa aku akan tertarik pada satu kaset dan membelinya.
Dengan sikap ragu-ragu akhirnya kujawab juga pertanyaannya.
“Ada CD-nya CAKE gak? Yang judul albumnya Fashion Nugget?” (dalam hati…pasti gak ada).
“Wah maaf Mbak, gak ada, kan udah lama banget. Udah gak keluar lagi”.
Emang! Udah lama banget, udah gak keluar lagi tapi aku tetap ngeyel untuk meletakkannya sebagai pertanyaan pertama kalo masuk toko kaset. Maklum, aku terobsesi sama I Will Survive-nya dan nyadar gak mungkin di jaman gini masih ada yang jual CD-nya. Aku selalu mengajukan pertanyaan itu karena sebenarnya aku tidak pernah punya tujuan yang jelas mau beli apa setiap pergi ke toko kaset. Sebagai tambahan, aku udah ke toko ini lebih dari dua kali dengan pertanyaan yang sama setiap kali datang.
“Mmm…iya sih, susah nyarinya.” Desahku sambil terus memandang ke sekeliling ruangan. Kalo Mocca ada CD-nya gak Mbak?” (sebenarnya aku udah punya kasetnya, tapi untuk lagu-lagu favorit biasanya aku beli CD-nya).
“Sebentar ya Mbak…” Pelayan toko tersebut berbalik dan mulai mencari-cari CD yang kuminta. Kemudian ia menoleh, “Kayaknya lagi kosong tuh Mbak. Yang lain aja gimana?”
Aku mulai berpikir untuk tidak berlama-lama disini dan pelayan toko itu jelas tidak ingin aku lekas pergi. Karena ia langsung memburuku dengan pertanyaan lagi. “Kalo Ten-2-Five mau gak Mbak? Lagunya enak-enak loh” (Iya, kalo bisa dimakan…)
“Ten-2-Five?!” Aku bertanya dengan penuh keraguan. Aku tidak suka gambling dalam membeli kaset, biasanya mengecewakan.
“Yah agak mirip sama Mocca. Grup band baru, dari Bandung juga. Mau Mbak?”
“Ee...bisa liat gak?” Masih dengan sikap ragu akhirnya kuiyakan juga tawaran pelayan toko itu.
Sesaat kemudian ia menyodorkan lagu yang dimaksud dalam bentuk CD. Aku langsung bertanya, “Loh, gak ada kasetnya Mbak?”. Kalau hanya untuk coba-coba sayang banget beli CD, terlalu mahal.
“Beli CD-nya aja Mbak, tanggung…cuman beda dikit kok.” Pelayan toko itu tersenyum hangat dengan mata berbinar meyakinkanku bahwa aku tidak akan kecewa dengan pilihannya.
“Yah kalo bagus sih gak papa, tapi saya belum pernah denger lagunya”
“Dijamin bagus kok Mbak, kalo Mbak suka Mocca pasti Mbak suka Ten-2-Five”
Yup! Bener banget! “Kalo suka Mocca pasti suka Ten-2-Five”, seruku dalam hati sambil mendengarkan CD yang baru saja kubeli tadi selama dalam perjalanan pulang. Ugh, bener-bener jadi dihayati deh ni lagu. Gimana nggak?! Lagi pas banget dengan suasana hati. So pasti gak jauh beda sama Mocca. Dulu juga pas dengan kisahku waktu kuliah. Bedanya, Mocca menceritakan diriku yang lagi jatuh cinta sedangkan Ten-2-Five menggambarkan diriku yang sekarang ini lagi patah hati. Daleemm...
Biasalah, kadang kita punya kenangan tersendiri tentang suatu lagu karena merasa tuh lagu liriknya “gue banget”. Pernah kayak gitu? Yakin deh pernah, bahkan mungkin sering. Nah, aku termasuk orang yang seperti itu, suka mencocokkan lagu dengan keadaan diri, kadang rada maksa juga sih…hihihi gak papa lah buat menghibur hati.
“Kaaaakkkk…awasss!”
Oooops, hampir aja. Aku melamun… untung tadi sempat menghindar dari motor yang tadi nyaris kutabrak.
“Jangan bengong aja donk! Belum mo mati neh!” ujar Ryo yang duduk disampingku. Dasar adek yang satu ini kalo ngomong gak liat-liat umur. Gak sopan tereak-tereak kayak temen sebaya.
“Iya, iya…cerewet! Kasar banget sih ngomongnya. Biasa aja lagi”. Dengan sebal kubalas ucapannya. Maunya sih sambil melototin dia tapi aku lebih memilih meratiin jalan daripada nabrak lagi.
“Sori deh Kak…abisan ngelamun aja. Lagi nyetir tuh konsentrasi dikit napa sih.” Gayanya yang sok menasehati semakin membuatku kesal.
“Iye tauk anak keciiil…bisanya nasehatin mulu.”
“Sapa jugak yang anak kecil, huh!”. Spontan saja Ryo langsung cemberut dan memalingkan wajahnya dariku. Yakin deh sekarang dia lagi gondok karena kubilang anak kecil. Hihihi…jurus ampuh mendiamkan Ryo. Tapi salahku juga sih pake acara ngelamun segala. Hampir…hampir…
Ryo diam saja, akupun tidak banyak bicara karena aku tahu Ryo pasti masih sebal dengan ejekanku tadi. Hanya terdengar suara alunan musik dari tape yang masih memutar CD yang baru kubeli.
“...coz my world is full with you...”
Uh-uh, lagu ini bikin sedih aja. Sampai saat ini aku masih saja memikirkannya. Dia yang pernah mengisi hidupku beberapa waktu lalu. Walaupun sesaat aku benar-benar tidak dapat melupakannya dan aku masih mengenangnya. Dika...untuk kesekian kalinya kusebut nama itu dalam hatiku.


0 Comments:
Post a Comment
<< Home