ChickLit

Being SINGLE and HAPPY! ^_^

My Photo
Name:
Location: Padang, Sumatera Barat, Indonesia

Saturday, April 01, 2006

My World Is Full With You Part 2

“Oi tembem, pinjem tugas kemaren donk!” seorang cowok tinggi, putih, dengan tampang yang lumayan...jelek! (Padahal cakep bangeeeet! Cha, gak boleh menipu diri sendiri) menghampiriku dengan senyum jahilnya. Hhh...hari ini bakal sial, seharian ini aku bakalan kena cela terus. Oh Tuhan, kenapa makhluk cakep yang keren ini bikin aku susah tiap hari bukannya bikin aku berbunga-bunga.
Aku menoleh pada Dika yang masih tersenyum di depanku. Hari ini dia memakai kemeja biru garis-garis, celana biru tua dan sepatu kets. Rambut ikalnya tak serapi biasa, matanya tampak lelah dan dia berdiri sedikit gontai dengan ransel yang tampak membebani pundaknya.
Dengan datar aku berkata, “Lagi dipinjem sama Aya’”. Setelah itu aku langsung beranjak pergi mencari kursi kosong dengan radius lebih dari 3 meter darinya.
“Cha...woii...napa loe?!” Dika berjalan mengikutiku. Sepertinya dia bingung dengan sikapku yang diam mendengar celaannya. Biasanya kalau udah ketemu kami pasti jadi biang ribut di kelas. Sekali-sekali ni anak kudu diambekin biar kapok, hihi.
“Gak pa-pa kok” jawabku tenang. Kuletakkan buku-buku di meja dan duduk di kursi dekat jendela di sebelah kanan ruangan. Dari sini aku bisa melihat mahasiswa yang lalu lalang di luar kelas. Mata kuliah hari ini tidak terlalu menarik, jadi aku memilih kursi agak di belakang.
Dika mengambil kursi kosong didepanku. Meletakkan tasnya dan berbalik menghadap ke arahku. “Cha, marah ya ama gue?” Dika menatapku dengan cemas dan rasa bersalah. Ah, aku tidak tahan melihatnya. Emang susah marah sama dia. Aku tak sanggup lagi, tawaku meledak seketika. Dika melihatku dengan heran dan akhirnya mengerti, “Loe tu yeeee.....dodol!”
“Heh, loe tu yang dodol! Sembarangan ngatain orang tembem.” Balasku tak mau kalah.
“Iya deh. Mana tugasnya?! Pinjem!”
“Eh, kalo butuh tuh ngomong baek-baek. Bukan bentak-bentak kayak gitu.”
Dika tersenyum dan berkata dengan sopan, “Cha Tembem...gue pinjem tugas loe donk. Boleh gak?”
Hahhh...aku hanya bisa menghela nafas. Ni anak gak kapok-kapok ternyata. Kujawab pertanyaannya dengan nada yang tak kalah sopan, “Dika dodol, tadi kan udah gue bilang, tugasnya lagi dipinjem Aya’. Kasian ya, belum tua dah mulai pikun.” Aku tersenyum penuh kemenangan. Ayo, loe mau nyela apalagi Dik? Gue ladenin ampe puas.
“Trus, Aya’-nya mana?” tanya Dika tanpa merasa kena cela. Aku tahu saat ini dia belum menemukan celaan baru jadi dia tidak banyak komentar, haha!
“Bentar lagi juga dateng. Lagian kok loe ribut banget sih, tugasnya kan dikumpulin lusa.”
“Hah?! Lusa? Bukan hari ini?!” Dika kaget mendengar jawabanku.
“Bukan” jawabku datar.
“Kan loe yang bilaaang!!”
“Gue cuman bilang...Dik, tugas Bu Ida udah dikerjain belum?” Aku berkata tanpa rasa bersalah. Padahal kemarin aku menelponnya dengan panik karena tugasku belum selesai.
“Trus sebenarnya loe udah ngerjain belum?”
“Baru setengah. Abis nelpon loe, gue tanya ke Aya. Dia bilang dikumpulin lusa, jadi yah belum gue selesein”
“Dodol! Kenapa gak telpon gueee...kasih tau kek kalo dikumpulin lusa! Kan gue gak perlu bangun pagi-pagi gini. Mana tadi malem gue tidur jam 3 tau gak?!”
“Gak!” jawabku pendek.
“Chaaaa.....!!”
“Malesh tauk! Buang-buang pulsa. Lagian gue bukan kakek-kakek yang kudu ngasih tau loe kapan mesti ngumpulin tugas.” Jawabku kalem. Aku hanya tersenyum melihat Dika yang menatapku tajam, ingin membalas celaanku. Namun Pak Iman terlanjur masuk ruangan. Aku menunjuknya dengan isyarat tangan agar Dika berbalik dan mengikuti kuliah. Dika hanya bisa mendengus kesal mengikuti saranku. Kurasa untuk sementara waktu aku bisa tenang tanpa celaan dan ocehannya.

My World is Full With You Part 1

“Met sore Mbak, mau cari kaset apa?”. Sapaan itu kubalas dengan senyuman sambil tengok kiri kanan…rak-rak berjejer di sekeliling ruangan yang isinya kaset semua (namanya juga toko kaset).
Pelayan toko itu tetap berdiri diam di depanku, tatapannya penuh harapan bahwa aku akan tertarik pada satu kaset dan membelinya.
Dengan sikap ragu-ragu akhirnya kujawab juga pertanyaannya.
“Ada CD-nya CAKE gak? Yang judul albumnya Fashion Nugget?” (dalam hati…pasti gak ada).
“Wah maaf Mbak, gak ada, kan udah lama banget. Udah gak keluar lagi”.
Emang! Udah lama banget, udah gak keluar lagi tapi aku tetap ngeyel untuk meletakkannya sebagai pertanyaan pertama kalo masuk toko kaset. Maklum, aku terobsesi sama I Will Survive-nya dan nyadar gak mungkin di jaman gini masih ada yang jual CD-nya. Aku selalu mengajukan pertanyaan itu karena sebenarnya aku tidak pernah punya tujuan yang jelas mau beli apa setiap pergi ke toko kaset. Sebagai tambahan, aku udah ke toko ini lebih dari dua kali dengan pertanyaan yang sama setiap kali datang.
“Mmm…iya sih, susah nyarinya.” Desahku sambil terus memandang ke sekeliling ruangan. Kalo Mocca ada CD-nya gak Mbak?” (sebenarnya aku udah punya kasetnya, tapi untuk lagu-lagu favorit biasanya aku beli CD-nya).
“Sebentar ya Mbak…” Pelayan toko tersebut berbalik dan mulai mencari-cari CD yang kuminta. Kemudian ia menoleh, “Kayaknya lagi kosong tuh Mbak. Yang lain aja gimana?”
Aku mulai berpikir untuk tidak berlama-lama disini dan pelayan toko itu jelas tidak ingin aku lekas pergi. Karena ia langsung memburuku dengan pertanyaan lagi. “Kalo Ten-2-Five mau gak Mbak? Lagunya enak-enak loh” (Iya, kalo bisa dimakan…)
“Ten-2-Five?!” Aku bertanya dengan penuh keraguan. Aku tidak suka gambling dalam membeli kaset, biasanya mengecewakan.
“Yah agak mirip sama Mocca. Grup band baru, dari Bandung juga. Mau Mbak?”
“Ee...bisa liat gak?” Masih dengan sikap ragu akhirnya kuiyakan juga tawaran pelayan toko itu.
Sesaat kemudian ia menyodorkan lagu yang dimaksud dalam bentuk CD. Aku langsung bertanya, “Loh, gak ada kasetnya Mbak?”. Kalau hanya untuk coba-coba sayang banget beli CD, terlalu mahal.
“Beli CD-nya aja Mbak, tanggung…cuman beda dikit kok.” Pelayan toko itu tersenyum hangat dengan mata berbinar meyakinkanku bahwa aku tidak akan kecewa dengan pilihannya.
“Yah kalo bagus sih gak papa, tapi saya belum pernah denger lagunya”
“Dijamin bagus kok Mbak, kalo Mbak suka Mocca pasti Mbak suka Ten-2-Five”

Yup! Bener banget! “Kalo suka Mocca pasti suka Ten-2-Five”, seruku dalam hati sambil mendengarkan CD yang baru saja kubeli tadi selama dalam perjalanan pulang. Ugh, bener-bener jadi dihayati deh ni lagu. Gimana nggak?! Lagi pas banget dengan suasana hati. So pasti gak jauh beda sama Mocca. Dulu juga pas dengan kisahku waktu kuliah. Bedanya, Mocca menceritakan diriku yang lagi jatuh cinta sedangkan Ten-2-Five menggambarkan diriku yang sekarang ini lagi patah hati. Daleemm...
Biasalah, kadang kita punya kenangan tersendiri tentang suatu lagu karena merasa tuh lagu liriknya “gue banget”. Pernah kayak gitu? Yakin deh pernah, bahkan mungkin sering. Nah, aku termasuk orang yang seperti itu, suka mencocokkan lagu dengan keadaan diri, kadang rada maksa juga sih…hihihi gak papa lah buat menghibur hati.
“Kaaaakkkk…awasss!”
Oooops, hampir aja. Aku melamun… untung tadi sempat menghindar dari motor yang tadi nyaris kutabrak.
“Jangan bengong aja donk! Belum mo mati neh!” ujar Ryo yang duduk disampingku. Dasar adek yang satu ini kalo ngomong gak liat-liat umur. Gak sopan tereak-tereak kayak temen sebaya.
“Iya, iya…cerewet! Kasar banget sih ngomongnya. Biasa aja lagi”. Dengan sebal kubalas ucapannya. Maunya sih sambil melototin dia tapi aku lebih memilih meratiin jalan daripada nabrak lagi.
“Sori deh Kak…abisan ngelamun aja. Lagi nyetir tuh konsentrasi dikit napa sih.” Gayanya yang sok menasehati semakin membuatku kesal.
“Iye tauk anak keciiil…bisanya nasehatin mulu.”
“Sapa jugak yang anak kecil, huh!”. Spontan saja Ryo langsung cemberut dan memalingkan wajahnya dariku. Yakin deh sekarang dia lagi gondok karena kubilang anak kecil. Hihihi…jurus ampuh mendiamkan Ryo. Tapi salahku juga sih pake acara ngelamun segala. Hampir…hampir…
Ryo diam saja, akupun tidak banyak bicara karena aku tahu Ryo pasti masih sebal dengan ejekanku tadi. Hanya terdengar suara alunan musik dari tape yang masih memutar CD yang baru kubeli.
“...coz my world is full with you...”
Uh-uh, lagu ini bikin sedih aja. Sampai saat ini aku masih saja memikirkannya. Dia yang pernah mengisi hidupku beberapa waktu lalu. Walaupun sesaat aku benar-benar tidak dapat melupakannya dan aku masih mengenangnya. Dika...untuk kesekian kalinya kusebut nama itu dalam hatiku.